Apa Perbandingan Manajemen Pendidikan di Indonesia dan Negara Lain

Hampir setahun pandemi Covid-19 yang terjadi secara international ternyata mengubah sebagian besar hidup berasal dari penduduk baik di ekonomi, sosial, dan politik. Pandemi terhitung makin menyadarkan bahwa 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development goals) 2030 adalah target yang perlu tercapai. Setiap target di dalamnya saling berkaitan.

Namun, terkandung satu target yang dirasa dapat jadi pondasi bagi target yang lain yaitu target nomor empat yaitu pendidikan bermutu. Tujuan tersebut idamkan meyakinkan seluruh penduduk secara terbuka memperoleh pendidikan berkualitas yang setara, terhitung mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi seluruh orang. Selanjutnya, pendidikan dapat jadi eskalator kelas ekonomi berasal dari segi pekerjaan. Untuk itulah, pengelolaan pendidikan yang terhitung ke di dalam sektor publik jadi perlu untuk disadari bersama.

Lalu bagaimana bersama kondisi di Indonesia? Salah satu hal yang masih jadi keprihatinan adalah terjadinya kesenjangan pendidikan di tiap tiap tingkatannya. Secara statistik sebenarnya terjadi penurunan kuantitas peserta didik tiap tiap jenjangnya berasal dari sekolah basic bersama kuantitas siswa sekolah basic (SD) 25.238.229 siswa, sekolah menengah pertama (SMP) 9.981.216 siswa, sekolah menengah atas (SMA) 9.854.333 siswa, dan perguruan tinggi 6.951.124 mahasiswa (BPS dan Kemdikbud, 2018).

Tidak hanya itu, seandainya berbicara berkenaan literasi, Indonesia menempati peringkat 60 berasal dari 61 berkenaan bersama minat baca, sama juga di bawah Thailand (Central Connecticut State University, 2016). Sementara di segi lain berasal dari skor PISA, Indonesia berada di peringkat 72 berasal dari 77 negara untuk kapabilitas membaca, peringkat 70 berasal dari 78 negara untuk nilai matematika, dan 70 berasal dari 78 negara untuk nilai sains (OECD, 2018).

Sedangkan, Finlandia telah disebut sebagai salah satu negara bersama mutu pendidikan terbaik, terbukti berasal dari skor PISA yang diperoleh berada terhadap jajaran peringkat teratas. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk mengupas lebih di dalam berkenaan pengelolaan dan sistem pendidikan di Indonesia bersama melakukan perbandingan bersama negara lain yaitu Finlandia dan Thailand.

Dalam jenjang sementara pendidikan, Indonesia dan Thailand menerapkan durasi perlu belajar 12 tahun hingga bangku sekolah menengah atas. Sementara untuk jenjang sarjana, sementara pendidikan yang perlu ditempuh adalah empat tahun.

Dari segi sistem seleksi masuk ke perguruan tinggi, calon mahasiswa di Thailand perlu mendaftarkan diri melalui tes masuk berstandar nasional yang dikelola oleh Departemen Universitas Kementerian Manajemen Pendidikan Islam. Hal ini terhitung sama bersama sistem yang terjadi di Indonesia.

Sedangkan, Finlandia dan Indonesia terhitung punya sebagian kesamaan, di antaranya penyediaan layanan pendidikan yang hampir 98 % cost pendidikan di seluruh jenjang pendidikan ditanggung oleh pemerintah. Serta penyusunan sistem pendidikan di ke-2 negara mendapat dukungan oleh perencanaan anggaran yang telah dirancang sebelumnya.

Walaupun ketiga negara telah punya sebagian persamaan di dalam pengelolaan sektor publiknya, selamanya saja tidak dapat disamakan. Finlandia dan Thailand punya prinsip-prinsip pendidikan yang diterapkan langsung ke di dalam pelaksanaan aktivitas belajar mengajar. Thailand menjadikan 12 Nilai Thai sebagai prinsip yang digunakan di dalam sistem pendidikannya. Finlandia punya rencana kesetaraan, kolaborasi, dan tanggung jawab.


Berdasarkan prinsip tersebut, Finlandia dapat dikatakan sebagai negara bersama sistem pendidikan yang paling berlainan bersama Indonesia dan Thailand. Finlandia mengambil keputusan regulasi bahwa seluruh peserta didik tidak bakal mengalami tinggal kelas. Sehingga durasi aktivitas belajar mengajar yang tersisa terhadap tiap tiap harinya bakal dialokasikan untuk mendukung peserta didik yang mengalami kesulitan.

Tidak hanya itu, Finlandia tidak melakukan tes nasional untuk memasuki perguruan tinggi, agar peserta didik diberikan kebebasan untuk menentukan melanjutkan belajar atau kejuruan.

Apabila peserta didik idamkan memasuki perguruan tinggi hanya perlu melakukan matriculation exam. Jika diamati berasal dari segi pendanaan, ketiga negara sebenarnya mengusahakan penuh untuk dapat memfasilitasi warga negaranya bersama pendidikan yang minim cost atau lebih-lebih tanpa biaya.

Melihat sebagian fakta di atas, Indonesia perlu belajar untuk meningkatkan lulusan bermutu tinggi di perguruan tinggi bersama mengelola sumber energi utama pendidikan yaitu para dosen.

Dengan kualifikasi berasal dari program pendidikan kelanjutan doktoral dan pascadoktoral, diharapkan para dosen dapat meningkatkan metode pengajaran yang tepat bagi mahasiswa di masa digital seperti fokus terhadap student center.

Kemudian perlu adanya sentralisasi kurikulum jenjang perguruan tinggi di tingkat pusat, sementara desentralisasi kurikulum jenjang menengah di tingkat provinsi dan kurikulum jenjang basic di tingkat kota atau kabupaten.

Namun, menelisik sedikit berasal dari sistem yang dibangun oleh Finlandia, Indonesia perlu menerapkan rencana kurikulum secara jangka sementara menengah dan panjang agar nampak keluarannya. Sedangkan, yang dapat dipelajari berasal dari pengelolaan sektor publik pendidikan di Thailand adalah sistem penganggaran dan manajemen pengelolaan universitas yang telah terintegrasi.

Tentu saja, hal ini dapat terwujud seandainya adanya bantuan berasal dari beraneka pihak, seperti lembaga swadaya penduduk dan masyarakat. Besar harapan Indonesia dapat belajar berasal dari Finlandia dan Thailand baik berasal dari segi sistem pendidikan itu sendiri hingga pengolahannya. Dengan demikian, generasi 100 tahun Indonesia merdeka dapat membawa perubahan yang nyata bagi bangsa dan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *