Kala Diare Menyerang Di Perjalanan

Saat itu aku berada dalam perjalanan menuju Bkamur Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, atau yang selanjutnya akan aku sebut dengan Bkamura Sepinggan. Bkamura ini terletak di kota Balikpapan yang berjarak sekitar 3 jam dari kota aku, Samarinda. Perjalanan ini aku lakukan karena aku harus kembali ke kota perantauan aku, Surabaya, melalui Bkamura Sepinggan karena di kota aku belum menyediakan bkamura yang mampu untuk melakukan penerbangan ke luar pulau. Oleh karena itu, setiap aku terbang kembali ke Surabaya, aku harus melakukan perjalanan darat terlebih dahulu menuju kota Balikpapan. 
Dan beginilah kisah itu bermula… 
Travel yang aku tumpangi menuju kota Balikpapan siang ini mulai melaju dengan kecepatan sedang. Saya menyibukkan diri aku dengan sebuah novel yang pegang sedari tadi, mencoba menghabiskan waktu dengan cara yang terbaik. Tidak ada firasat buruk atau pun perasaan tidak nyaman yang aku rasakan. Namun, setelah 1 jam perjalanan, aku mulai merasa ada yang tidak beres pada perut aku. 
“Kenapa jadi sakit perut gini? Perasaan belum jadwalnya menstruasi. Magh juga nggak punya.” aku berbisik dengan diri aku sendiri. 
Saya hanya dapat terdiam di kursi yang aku duduki. Mencoba mengalihkan rasa sakit yang aku rasakan dengan membaca buku yang masih aku pegang, berharap rasa sakit ini akan mereda dengan sendirinya. Tapi ternyata cara ini juga tidak berguna. Akhirnya, aku memilih untuk mencoba tidur di sisa perjalanan. 
Nyaris tiga jam berlalu. Gerbang Bkamura Sepinggan sudah terpampang di kedua mata aku. Saya menghirup nafas lega. Memang, aku sukses tidur di sisa perjalanan, namun aku selalu terbangun hampir setiap 30 menit dan kembali merasakan nyeri perut yang sesemakin menjadi-jadi. Lalu, aku mencoba tidur kembali. Dan begitu seterusnya. 
Bkamura hari ini tidak terlalu ramai. Saya baru saja melakukan check-in dan mendapatkan boarding pass aku dengan cepat. Tapi, tiba-tiba perut aku sakit dan mendesak aku untuk ke kamar mandi. Saya pun bergegas mencari kamar kecil terdekat dari konter check-in.

Dimodifikasi dari https://www.rodalesorganiclife.com/

Keringat dingin mulai nampak bercucuran di kedua pelipis aku saat aku masih berdiri di dalam bilik kamar kecil yang aku diami. Baru saja aku merelakan ‘pembuangan’ aku yang berbentuk cair, tapi perut aku sudah menuntut haknya untuk mengeluarkannya lagi. Akhirnya, aku pun sukses mengeluarkan harta harun aku sebanyak 2 kali dalam 1 periode. 
Setelah urusan aku selesai di kamar kecil, aku bergegas menuju lokasi ruang tunggu. Was-was jika saja perut aku berulah kembali. Tapi benar saja, baru hingga di ruang tunggu, perut aku sudah memaksa aku untuk bersemedi di kamar kecil lagi. Saya pun memutuskan untuk menunggu waktu boarding di kamar kecil saja, setidaknya aku tidak perlu bolak balik. Dan disaat itu aku menyadari bahwa aku mengalami diare. 
Saya memeriksa tas aku, berharap ada terselip obat anti diare di dalam tas aku. Saya memang biasa membawa beberapa obat-obatan di tas aku saat bepergian, tapi akungnya, yang terbawa di tas aku saat itu hanya Paracetamol. Tiba-tiba suara orang yang sedang membersihkan lantai terdengar dari luar balik kamar kecil. Ah aku punya ide, pikirku. Aku membuka pintu kamar kecil dan mendatangi cleaning service yang kebetulan ada dihadapanku. 
“Bu, orang jual obat mencret dimana ya? Disini ada apotik nggak, bu?” tanyaku kepada ibu-ibu cleaning service yang mungkin masih berusia sekitar 30 tahunan. 
“Mbak mencret?” tanyanya kembali. Untungnya, tidak ada orang lain disana jadi aku tidak perlu malu untuk menanggukkan kepalaku. 
“Sebentar, mbak. Saya ambilkan dulu. Kebetulan aku ada. Kemarin juga aku habis mencret, jadi simpen obat juga disini” ibu-ibu itu pun meninggalkan aku dan bergegas ke tempat ia menyimpan obat-obatannya. 
Tak hingga 5 menit, satu keping Entrostop sudah berada di tanganku. Aku merasa kejatuhan durian runtuh yang nggak berduri hari itu. Seolah-olah ada seorang malaikat yang sengaja diturunkan oleh Tuhan untuk mengatasi masalahku dengan cuma-cuma. Dan diare-ku pun lenyap sesaat sebelum pesawat berangkat. 
Dan beginilah kisah ini berakhir. Ya, diare memang sangat menyebalkan. Dia dapat pergi dan datang kapan saja, tanpa di undang. Oleh karena itu, ada baiknya kita mengetahui tentang diare, sehingga kita dapat siap diri untuk menghadapi diare yang dapat menyerang kapan saja. Jadi, yuk kita sama-sama belajar sedikit tentang diare. 
Diare itu apa ya? 
Diare merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam satu hari. Secara umum, diare dapat disebabkan oleh infeksi kuman-kuman penyakit, keracunan atau alergi makanan, malabsorbsi (ketidakmampuan tubuh menyerap makanan), faktor psikologis (seperti cemas), dan lingkungan yang tidak bersih bersih disertai perilaku yang tidak sehat. 
Apa yang dilakukan jika terserang diare? 
Pada umumnya, diare akut atau diare yang berlangsung selama 3 – 7 hari bersifat ringan dan dapat sembuh cepat dengan sendirinya melalui pemberian cairan dan obat anti diare. Nah, berikut ini merupakan beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk mengatasi diare dengan tepat & benar bagi orang dewasa. 
1. Mengkonsumsi cairan dan diet memadai 
Penderita diare tidak dianjurkan untuk berpuasa dan diharapkan dapat segera diberikan cairan yang memadai. Hal ini memiliki tujuan untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Minuman yang mengandung alkohol atau kafein tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan kerja usus. Makanan yang dikonsumsi pun sebaiknya tidak mengandung gas dan mudah dicerna. Selain itu, penderita diare dapat mengonsumsi cairan Oralit atau larutan gula garam untuk mencegah atau mengatasi dehidrasi. Oralit atau larutan gula garam sendiri merupakan cairan yang mengandung gula dan elektrolit. Oralit dapat didapatkan di pelayanan kesehatan terdekat dalam bentuk sachet. Sementara larutan gula garam merupakan cairan yang dapat diolah sendiri di rumah dengan menyampurkan 1 liter air mineral dengan 6 sendok teh gula dan ½ sendok teh garam. Diharapkan dengan mengonsumsi oralit atau larutan gula garam, cairan dan elektrolit tubuh yang keluar karena diare dapat kembali seimbang. 
2. Mengkonsumsi obat anti diare 
Penderita diare dapat diberikan obat antidiare untuk mengurangi gejala. Entrostop merupakan salah satu contoh obat anti diare yang dijual bebas di pasaran Indonesia. Entrostop sendiri mempunyai kandungan Colloidal Attapulgite dan Pectin yang berfungsi menyerap racun, bakteri dan virus penyebab diare, serta memadatkan kotoran. Obat ini merupakan obat yang dapat kita bawa kemana pun kita pergi, sehingga kita tidak perlu panik jika mendadak kita menderita diare. 
3. Berikan antibiotik 
Antibiotik diberikan pada penderita yang mempunyai indikasi, atau diare yang mungkin disebabkan oleh infeksi bakteri. Antibiotik ini dianjurkan berdasarkan resep dokter. Namun, antibiotik biasanya jarang digunakan pada diare akut infeksi karena 40% kasus diare infeksi sembuh dalam waktu kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik.

Jika dipikir, mungkin diare merupakan penyakit yang sepele. Tapi, jika diperhatikan baik-baik, diare sebenarnya merupakan penyakit yang membahayakan. Pengeluaran cairan secara terus-menerus karena diare dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi, dehidrasi inilah yang tak jarang mengakibatkan kematian pada orang-orang yang terlambat untuk ditangani. Oleh karena itu, penting untuk mempunyai pengetahuan mengenai diare sehingga kita siap atasi diare dengan tepat & benar dimana pun kita berada. 

Refrensi: 
Amin, Lukman Z. 2015. Tatalaksana Diare Akut. CDK-230 Vol. 42 (7). 
Ikatan Dokter Indonesia. 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer Edisi Revisi Tahun 2014. Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia.

Article Source: https://comoedicas.com.com/

Impian Bahagia Jelang 40 Tahun

Usia 40 tahun merupakan usia dimana manusia mencapai puncak kehidupannya. Masa untuk mencapai kematangan diri, baik dari segi fisik, intelektual, emosi, dan spitirual. Di waktu inilah, manusia mulai ditinggalkan oleh usia mudanya, termakan oleh waktu untuk lalu melangkahkan kakinya menuju usia dewasa yang sebenarnya.
Jika memikirkan usia 40 tahun, maka bayangan Maia Estianty akan terlintas di pikiran aku. Wanita yang telah berusia 44 tahun ini selalu tampak muda dan menawan. Tak hanya penampilannya, karirnya pun kini masih melesat tajam. Ah, jika di pikir-pikir, siapa yang tidak ingin mempunyai kehidupan 40 tahun seperti Bunda Maia?
Usia aku yang nyaris seperempat abad ini mengingatkan aku bahwa aku masih mempunyai waktu 15 tahun sebelum akhirnya aku mencapai usia puncak aku. Dengan sisa waktu itu, aku mempunyai banyak impian yang ingin sekali aku wujudkan. Namun secara garis besar, ada 3 keinginan yang sangat aku ingin aku wujudkan sebelum aku mencapai usia 40 tahun.

1. Membangun Keluarga 

Menikah dengan orang yang dicintai, mempunyai keturunan yang cerdas, dan dikaruniai keluarga yang harmonis tentu merupakan impian sebagian besar penduduk bumi. Tak terkecuali aku sendiri. 

2. Mapan Secara Ekonomi

Siapa yang tidak ingin mempunyai perekonomian yang stabil, bahkan berlimpah? Mampu memenuhi semua barang yang dibutuhkan. Dapat mempunyai semua barang yang diinginkan. Terbebas dari lilitan utang. Sanggup berpergian kemana pun. Hingga dapat berbagi dengan orang-orang di sekitar. Ah, ini merupakan impian terbesar aku. Menjadi kaya, tidak hanya harta tapi juga hati.

3. Proteksi diri dan keluarga melalui asuransi

Bukan rahasia umum jika sekarang asuransi menjadi salah satu kebutuhan yang penting bagi suatu keluarga. Tidak hanya perhiasan, asuransi kini menjadi pilihan investasi terbaik dalam hidup untuk melindungi diri dan keluarga di masa depan. Hal ini dikarenakan banyaknya manfaat asuransi yang dapat dinikmati, seperti pelayanan kesehatan di rumah sakit, tabungan pendidikan anak, hingga asuransi jiwa kematian. Ini merupakan impian yang harus segera di wujudkan.
Nah, salah satu asuransi yang memberikan penawaran terbaik merupakan Comenwealth Life. Sebagai informasi, Commenwealth Life  merupakan perusahaan asuransi jiwa yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Perusahaan ini merupakan salah satu asuransi yang menawarkan berbagai macam program unit link yang merupakan program asuransi yang menggabungkan asuransi jiwa dan investasi terbaik secara fleksibel. Sehingga melalui unit link yang ditawarkan oleh Commonwealth Life, kita dapat mendapatkan mendapat dua manfaat sekaligus, yakni perlindungan jiwa dan investasi masa depan. Aset impian banget, kan?
Setiap orang pasti mempunyai impiannya masing-masing. Tapi bagi aku, perlindungan keluarga tetap menjadi impian prioritas. Hal ini karena bagi aku, keluarga merupakan pendukung sejati atas setiap langkah kesuksesan kita. Jadi, yuk capai impian bersama keluarga demi mewujudkan hidup bahagia sebelum 40 tahun.

Article Source: https://lafriedchickenfest.com/

Imunisasi untuk Keselamatan Hidup Anak Indonesia

Dimodifikasi dari www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Beberapa minggu yang lalu, Nabika – keponakan aku – pulang sekolah dengan kondisi menangis nggak karuan, seperti habis dikejar hantu. Rupa-rupanya ia habis kena coblos oleh tenaga kesehatan yang datang ke sekolahnya untuk melakukan program imunisasi MR (Measles Rubella). Untungnya, tangis Nabika nggak bertahan lama. Setelah diiming-imingi ice cream, ia pun perlahan berhenti menangis, berubah menjadi rengekan untuk meminta ice cream yang dijanjikan. Sudahlah, yang terpenting tangisnya sudah sirna, dan aku nggak perlu khawatir gendang telinga aku pecah karena tangisannya. Hehe..

Tapi kalau dipikir-dipikir, kita semua pasti pernah berada dalam kondisi yang Nabika hadapi. Pagi-pagi datang ke sekolah dengan niat belajar, lalu tiba-tiba sekelompok orang datang dengan peralatannya yang mengerikan. Dengan mantra kamulannya, mereka berkata “Nggak sakit kok, rasanya kayak di gigit semut”. Kemudian mereka pun menjalankan aksinya dengan menusuk satu per satu lengan anak-anak yang berada di kelas. Dan kita pun hanya dapat pasrah dengan situasi yang ada. Kalian juga pernah merasakan hal itu, bukan? Rasanya menarik sekali ya jika mengilas balik kisah-kisah imunisasi di masa sekolah. 
Berbicara tentang imunisasi, belakangan ini banyak sekali media-media yang menyuarakan tentang imunisasi MR. Imunisasi ini sendiri merupakan imunisasi untuk mencegah terjadinya penyakit akibat virus campak dan rubella. Awalnya, aku kurang merasa tergugah dengan adanya imunisasi MR ini karena nyatanya aku pribadi jarang menemukan kasus campak atau rubella. Saya pun sempat berpikir bahwa iklan tentang rubella di TV itu hanya sebagai promosi iklan semata. Hingga akhirnya aku membaca caption dr_piprim di Instagramnya, beliau menulis “Memeriksa echo bayi usia 7 bulan dengan Sindrom Rubella Kongenital. Jantungnya bocor di 3 lokasi, matanya buta karena katarak sejak lahir, telinganya tuli berat, otaknya kecil dan gagal tumbuh pula. Prihatin sekali melihatnya. Bayi-bayi seperti ini dapat kita cegah dengan ikhtiar vaksinasi MR pada anak kelompok usia 9 bulan – 15 tahun supaya tak menularkan virus Rubella kepada ibu hamil muda di sekitarnya. Indonesia Darurat Rubella.” Tulisan itu tiba-tiba membuat aku prihatin, sekaligus menyadarkan aku bahwa ternyata ancama Rubella itu memang benar ada.

Sumber gambar www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Angka Kejadian Campak dan Rubella

Saya sempat mengira bahwa penyakit Rubella mungkin tidak banyak terjadi. Tapi tak disangka dalam 5 tahun terakhir, telah ditemukan 1.660 kasus yang diduga Sindrom Rubella Kongenital di 12 rumah sakit yang menjadi fokus pemantauan kasus Sindrom Rubella Kongenital. Bayangkan saja, 1.660 kasus dalam 12 rumah sakit. Berapa jumlahnya jika dihitung dalam seluruh rumah sakit yang ada di Indonesia? Saya yakin pasti akan membludak.
Tak hanya Rubella saja, campak pun ikut menjadi sorotan akhir-akhir ini. Benar saja, penyakit yang mungkin lebih bersahabat di telinga kita ini mempunyai angka kejadian yang masih cukup tinggi di negara kita. Terbukti dari tahun 2014 hingga Juli 2018, tercatat 57.056 kasus dicurigai campak dan rubella terjadi, dengan rincian 8.964 kasus positif campak dan 5.737 positif rubella. Nggak cuma itu, bahkan Badan Kesehatan Dunia, atau yang biasa kita sebut WHO, mengatakan bahwa bahwa Indonesia masuk ke dalam 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia pada 2015. Bukan prestasi yang harus dibanggakan harusnya. Kabar buruknya, penyakit campak dan rubella ini sebagian besar menyerang adik-adik kita yang di bawah umur. Ini harusnya menjadi alarm bagi kita supaya mampu melindungi adik-adik kita dari dua penyakit berbahaya ini.

Modifikasi dari www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Penjelasan tentang Campak dan Rubella

Rubella sendiri merupakan penyakit akut pada anak dan dewasa muda yang rentan dengan gejala yang tidak jelas dan juga mudah menular. Anak yang terinfeksi virus ini dapat menularkan penyakitnya kepada wanita hamil yang berada di dekatnya. Celakanya, rubella mempunyai efek teratogenik jika menginfeksi ibu hamil. Hal ini lah yang lalu dapat mengakibatkan keguguran atau kecacatan permanen pada bayi yang dilahirkan seperti tuli, gangguan penglihatan hingga buta, kelainan jantung, bahkan pengecilan otak. Penyakit yang dialami oleh bayi-bayi ini biasa disebut dengan Sindrom Rubella Kongenital, atau Congenital Rubella Syndrome (CRS). Pernah mendengarnya?

Sementara itu, sebagai pasangan imunisasi Rubella, campak juga tidak kalah membahayakan. Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini sangat mudah menular, bahkan dapat melalui batuk atau pun bersin. Campak mempunyai gejala yang sangat khas, yakni demam tinggi dan bercak kemerahan pada kulit (rash), tak jarang disertai dengan gejala batuk, pilek, dan/atau konjungtivitis. Jika campak tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi berupa paru-paru basah, mencret, radang selaput otak dan hingga kematian. Ada satu hal yang perlu kita ingat baik-baik, saat kita menemukan seseorang yang terkena campak, 90% orang yang berada didekat penderita dapat tertular jika mereka belum mempunyai kekebalan terhadap campak, yang mana kekebelan ini dapat didapatkan melalui imunisasi atau pernah terinfeksi virus campak sebelumnya.

Sumber gambar www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Biaya Pengobatan Campak dan Rubella

Mendengar penyakit rubella dan campak sudah sukses membuat aku prihatin. Apalagi jika harus mendengar kisah tentang tenaga dan biaya yang harus dikeluarkan para keluarga yang menderita penyakit ini, dapat-dapat aku sesak nafas. Bayangkan saja, anak dengan CRS membutuhkan biaya pengobatan lebih dari 395 juta rupiah per anak. Biaya ini diperlukan untuk penanaman koklea di telinga, operasi jantung dan mata. Dan setelah itu pun anak dengan CRS masih membutuhkan banyak biaya untuk perawatan kecacatan seumur hidupnya. Sedih banget ya. Nah dibawah ini, ada sedikit video dari ibu Yunelia dan anaknya, Nadif, yang menceritakan tentang pengalamannya menghadapi rubella.

Selain rubella, penderita campak juga sepertinya harus turut mengelus dada. Meski pun kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak seburuk rubella, namun kocek yang harus dikeluarkan tetap saja banyak, terutama untuk orang-orang yang tidak mampu. Setiap penderita campak tanpa komplikasi menghabiskan biaya 2,7 juta rupiah untuk pengobatannya, dan jika penderita mengalami komplikasi radung paru atau otak maka biaya pengobatan naik hingga 13 juta rupiah. Saya pikir, ini bukan angka yang sedikit. Dan semua biaya ini pastinya di luar biaya hidup yang dibutuhkan saat penderita mendapatkan perawatan. Sehat memang harganya sangat mahal ya.
Cara Mencegah Campak Dan Rubella

Salah satu cara untuk menghindari penyakit campak dan Rubella ini merupakan dengan menghindari anak-anak yang mungkin menderita campak dan rubella, terutama untuk para ibu hamil, tapi apa mungkin? Bagaimana dengan para tenaga kesehatan yang bahkan tak dapat mengelak dengan kewajibannya untuk harus berada dekat dengan para penderita campak atau rubella? Bagaimana dengan guru-guru PAUD, TK, dan SD yang harus berinteraksi dengan anak-anak yang tanpa diketahui ternyata menderita penyakit campak dan rubella? Oleh karena itu, imunisasi menjadi satu-satunya langkah efektif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya campak dan rubella.

Sumber gambar www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Kabar baiknya, kini pemerintah sedang berupaya untuk mencegah terjadinya penyakit campak dan rubella pada masyarakat dengan memberikan kekebalan tubuh melalui program imunisasi MR. Dan nggak tanggung-tanggung, imunisasi ini diberikan di 6 provinsi di Pulau Jawa dan 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hal ini dilakukan supaya masyarakat yang diberikan imunisasi MR merata. Jadi tunggu apalagi?


Hukum Imunisasi MR
Tapi bukannya imunisasi MR itu mengandung unsur haram? Apa boleh melakukan imunisasi yang belum halal?
Dalam kajiannya, LPPOM MUI menemukan bahwa vansin MR diproduksi dengan memanfaatkan unsur haram, karena itulah vaksin ini tidak dapat mendapatkan sertifikasi halal. Tapi masalahnya, jika imunisasi MR tidak dilakukan maka akan menyebabkan bahaya yang dapat menghilangkan nyawa atau kecacatan dalam masyarakat. Oleh karena itu, MR diperbolehkan didasari oleh tiga alasan, yakni memenuhi ketentuan dlarurat syar’iiyah, belum adanya alernatif vaksin yang halal, dan adanya keterangan ahli yang kompeten tentang bahaya yang dapat ditimbulkan. Namun, jika dilalu hari ditemukan vaksin MR yang halal dan suci maka kebolehan penggunaan vaksin MR hingga detik ini tidak akan diberlakukan lagi. Hal ini dapat diperiksa dalam Fatwa Maelis Ulama Indonesia Nomor 33 Tahun 2018 yang dapat dilihat disini.
Perlu diingat bahwa rubella merupakan penyakit yang belum ditemukan obatnya, dan hanya dapat dikendalikan lewat imunisasi. Penting sekali untuk memberikan anak-anak kita imunisasi MR, karena hal ini tidak hanya mencegah anak atau pun keluarga tertular rubella, tapi juga membantu pencegahan terhadap penularan rubella di masyarakat sekitar. Jadi, meski pun imunisasi MR memanfaatkan unsur haram dalam produksinya, kita harus tetap melakukan imunsasi untuk membantu negeri ini terlepas dari penyakit campak dan rubella.

Sumber gambar www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Imunisasi Lainnya Juga Penting

Tidak hanya imunisasi MR, terdapat banyak imunisasi lain juga penting dan wajib diberikan kepada anak kita. Salah satunya merupakan imunasasi dasar yang harus diberikan sejak anak lahir hingga usia 9 bulan, yang dapat didapatkan secara gratis di Puskesmas terdekat. Seperti imunisasi Hepatitis B untuk mencegah penyakit Hepatitis B, BCG untuk mencegah penyakit tuberkulosis, polio untuk mencegah penyakit polio, serta DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.  Selain imunisasi dasar, kita pun dapat menambah imunisasi lain pada anak sesuai dengan keperluan, seperti imunisasi influenza, tifoid, Hepatitis A, varisela, dan lain-lain.
Tapi, imunisasi tidak hanya berlaku untuk anak-anak, kita pun yang dewasa juga sebenarnya memerlukan imunisasi sesuai dengan kondisi. Sebagai contoh, jika kita lahir dari ibu yang mempunyai riwayat keturunan kanker serviks, maka kita sebagai anak dianjurkan untuk melakukan vaksin HPV (Human Papillomavirus) untuk mencegah terjadinya kemungkinan kanker seviks pada kita. Imunisasi pada orang dewasa ini dapat kita dapatkan di klinik atau pun RS terdekat, namun dengan harga yang sudah ditentukan.

Pak Jokowi Mencanangkan Imunisasi Campak dan Rubella

Imunisasi merupakan satu-satunya upaya pencegahan yang paling efektif dengan cost efektif. Kita tentu tidak ingin kita atau anak kita menderita dan menjadi beban keluarga di masa depannya, bukan? Oleh karena itu kita berkewajiban untuk melindungi keluarga dan masyarakat sekitar melalui imunisasi. Mari galakkan perlindungan imunisasi untuk mencapai Indonesia Sehat. Jangan lupa imunisasi, ya!

Informasi di atas dilansir dari www.sehatnegeriku.kemkes.go.id

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba Kompetisi Media Sosial oleh Kemenkes RI.

Article Source: https://articlesonhealth.net/