Puasa Tak Terasa dengan Uniknya Festival Pasola Sumba

Festival Pasola

Indonesia bagian Timur semakin ke sini makin mendapatkan spotlight untuk tempat-tempat wisata yang membawa kalian bak ke surga.

Keindahan alamnya luar biasa dan masih belum banyak tercemar oleh ulah tangan jahat manusia yang tidak bisa menjaga keindahan alam dan objek wisatanya.

Salah satu provinsi yang menyimpan banyak harta karun untuk dijelajahi adalah Provinsi NTT yang merupakan provinsi dengan bentuk kepulauan sehingga wisata pantainya dijamin membuat mata kalian menjadi segar kembali.

Di NTT, para wisatawan bisa memilih mana pulau yang akan jadi tujuan wisatanya misalnya di Pulau Komodo tempat untuk bisa bertemu langsung dengan hewan purbakala yang masih hidup hingga jaman modern sekarang ini.

Atau bisa juga ke Pulau Flores di mana di sini kalian bisa menjelajahi dunia air di pantai-pantai super menakjubkan atau mendaki Gunung Kelimutu dengan keindahan danau tiga warnanya.

Atau ada lagi nih yang lebih seru yaitu festival pasola di Pulau Sumba yang memberikan tontonan perang tombak sekaligus balap kuda yang merupakan adat tradisional dan masih dilakukan hingga sekarang. Penasaran?

BACA JUGA: Sewa Hiace Murah Untuk Wisata Religi 

Arti Festival Pasola

Pasola diambil dari kata “sola” atau “hola” yang merupakan lembing yang terbuat dari bahan kayu yang kemudian digunakan pada permainan tradisional ini.

Sola dilemparkan oleh penunggang permainan balap kuda yang sedang dipacu dengan kecepatan yang tinggi ke kelompok lawannya.

Festival ini merupakan bagian dari adat tradisional orang Sumba yang menganut agama Marapu yaitu agama atau keyakinan yang dianut oleh orang asli Sumba di NTT.

Biasanya, permainan ini dimainkan di empat kampung ada di wliayah Sumba Barat dan diadakan dari bulan Februari hingga bulan Maret setiap tahunnya dengan jadwal-jadwal yang sudah ditentukan.

Tidak hanya diadakan semerta-merta, sebelum festival puncak pasola diadakan, masyarakat lokal akan melakukan serangkaian proses selama musim festival berlangsung.

Yang pertama adalah pelaksanaan adat nyale, nyale adalah sejenis cacing laut yang nantinya akan muncul ke permukaan di pinggir-pinggir pantai.

Apabila nyale sudah mulai tampak maka artinya musim panen sudah datang, dan adat nyale diadakan sebagai rasa syukur atas datangnya musim panen ini.

Pasola Sumba diadakan di padang rumput yang luas, masing-masing kelompok yang “berperang” terdiri dari 100 pemuda yang dipersenjatai dengan lembing kayu atau tombak panjang dengan ujung yang tumpul, berdiamater kira-kira 1,5 cm.

Ujung yang tumpul ini agar tidak ada korban jiwa pada festival pasola namun tetap saja apabila terkena lemparan tombak tentu akan terasa sakit sehingga tidak jarang pesertanya mengalami pendarahan lho guys.

Kuda yang digunakan untuk balap kuda saat pasola adalah jenis kuda yang diberi nama Sandelwood yang merupakan jenis kuda lokal andalan masyarakat Sumba dengan karakter yang gesit dan juga tangguh.

Kemeriahan festival pasola akan memicu terbakarnya semangat kalian untuk ikut bersorak. Suara derap kuda yang gagah, manuver para penunggang kuda yang menghindari terjangan tombak.

Suara teriakan dari para penunggang, dan juga sorak sorai dari para penonton yang memberikan semangat, suasana yang begitu hidup akan terasa selama festival ini berlangsung.

Masyarakat Sumba percaya bahwa cucuran darah para penunggang permainan balap kuda yang terkena tombak dan menetes ke tanah akan menambah kesuburan dan menambah hasil panen para petani.

Apabila ada korban jiwa, masyarakat percaya bahwa sebelumnya telah terjadi pelanggaran moral atau adat di arena yang digunakan untuk melaksanakan festival pasola ini.

BACA JUGA: Hukum Khitan Bagi Seorang Muslim

Bentuk rasa syukur masyarakat Sumba untuk kesejahteraan

Makin tahun festival Pasola Sumba menyedot banyak perhatian para wisatawan baik lokal maupun asing.

Sehingga festival ini bisa jadi daya tarik yang lain untuk wisata di NTT yang selama ini didominasi oleh jenis wisata alam bahari.

Bagi wisatawan yang mencari sesuatu yang berbeda, bisa memacu adrenanaline mengalir dengan deras di dalam pembuluh darah, namun masih ingin dimanjakan dengan pemandangan yang indah, menonton festival adu tombak ini bisa jadi pilihan yang lumayan seru lho.

Sedangkan bagi masyarakat Sumba sendiri, pasola adalah bentuk masyarakat lokal untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang memberikan hasil panen yang berlimpah karena ketika adat nyale berlangsung namun tidak ada cacing yang ditangkap maka acara puncak pasola tidak boleh diadakan.

Kearifan Lokal

Pasola Sumba juga merupakan bentuk nyata dari aplikasi kepercayaan lokal masyarakat Sumba yang menganut Marapu.

Di mana di festival ini kalian bisa menyaksikan prosese religi dari penganut Marapu yang tentunya jadi kaum minoritas di antara 5 agama besar yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu dengan menyaksikan berbagai ritual, adat, dan prosesi religi dari budaya yang berbeda seperti pasola dari Sumba ini bisa membantu kalian memahami bahwa ada banyak cara yang dilakukan manusia untuk menunjukkan rasa syukurnya kepada Sang Pencipta.

Sehingga tidak benar rasanya jika memaksakan cara yang dianut oleh orang lain kepada orang yang punya keyakinan dan cara yang berbeda.

Jadi, sudah siapkah kalian ke Sumba untuk menonton pasola yang diadakan pada awal tahun?

SUMBER: Islamiyyah.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *